KARYA TULIS ILMIAH KEPERAWATAN HIV AIDS
MANAJEMEN PADA PASIEN ODHA
DISUSUN OLEH KELOMPOK 4
Ade Saputri (1610003)
Aulia Bella (1610017)
Elza Maulidina (1610031)
Galuh Permatasari (1610037)
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Lembar Tugas Kelompok yang berjudul “Manajemen pada pasien ODHA”. Tugas ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam penilaian tugas mata kuliah Keperawatan HIV/AIDS
Penulis menyadari bahwa Lembar Tugas Kelompok ini memiliki banyak kekurangan dan jauh dari sempurna oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai perbaikan yang berkelanjutan. Akhir kata, penulis berharap Lembar Tugas Kelompok ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak.
Surabaya, Oktober 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
Latar belakang 4
Rumusan masalah 5
Tujuan penulisan 5
Tujuan Umum 5
Tujuan Khusus 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Manajemen Kasus 6
Aspek-Aspek Manajemen 7
Assessment 7
Perencanaan 7
Rujukan 8
Edukasi 8
Konseling 9
Advokasi 9
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 10
Saran 10
Daftar pustaka 11
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
HIV dan AIDS menjadi salah satu isu permasalahan di dunia, sehingga menjadi satu agenda dalam Millenium Development Goals (MDG’s) tahun 2015, disamping pengurangan angka kemiskinan dan masalah sosial lainnya (Friedmann, Kippax, Mafuya, Rossi and Newman, 2006; Poindexter, 2010). Masalah HIV dan AIDS menjadi masalah kontemporer yang berkaitan dengan perilaku berisiko manusia, karena masalah ini bukanlah masalah kesehatan semata, tetapi juga sebagai masalah sosial yang berkaitan dengan relasi seseorang dengan lingkungannya. Salah satu permasalahan sosial orang dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah berkaitan dengan masalah keterlantaran.
Keterlantaran ODHA pada umumnya selain karena penolakan dari keluarga juga disebabkan kondisi keluarga yang cenderung tidak memiliki kemampuan untuk merawat anggota keluarganya. Ketidakmampuan keluarga selain karena faktor ekonomi sehingga tidak mampu membiayai perawatan kesehatan penderita HIV dan AIDS. Penderita memerlukan perawatan kesehatan yang memadai karena Infeksi HIV juga memerlukan penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan CD 4 sehingga penderita tidak drop kondisinya. Ketidakmampuan keluarga lainnya karena keluarga tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang penyakit HIV dan AIDS, sehingga keluarga menolak merawat dengan cara mengisolasi, atau membatasi interaksi dengan penderita.
Manajemen kasus merupakan bagian dari pelaksanaan praktek intervensi pekerjaan social. Manajemen kasus dalam penanganan ODHA digunakan untuk memastikan berjalannya koordinasi pelayanan dan keberlanjutan pemberian perawatan kepada ODHA. Fleishman (1998) mengemukakan bahwa orang yang terjangkiti HIV/AIDS akan berhadapan dengan situasi dimana dia harus berhadapan dengan hasil tes HIV yang positif, berhadapan dengan stigma dan diskriminasi, menghadapi rasa sakit akut yang terus menerus, dan berhadapan dengan berbagai sistem pelayanan medis, sosial dan hukum yang kompleks yang menghasilkan kecemasan dan hambatan secara berlebihan diluar kemampuan mereka. Oleh karena itu, individu, pasangan atau keluarga yang menghadapi penyakit dan masalah HIV seringkali membutuhkan seorang manajer kasus dan pembela untuk dapat membimbing mereka dalam menghadapi lingkaran masalah kehidupan yang menyulitkan tersebut
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana manajemen kasus pada pasien dengan ODHA ?
Apa saja yang harus dipahami tentang manajeman kasus pada ODHA ?
TUJUAN
Tujuan Umum
Mahasiswa mengerti dan memahami manajeman kasus pada pasien ODHA
Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu mengaplikasikan manajemen kasus untuk pasien ODHA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Manajemen Kasus
Manajemen kasus merupakan bagian dari pelaksanaan praktek intervensi pekerjaan social. Manajemen kasus dalam penanganan ODHA digunakan untuk memastikan berjalannya koordinasi pelayanan dan keberlanjutan pemberian perawatan kepada ODHA.
Brooks (2010) mengemukakan bahwa manajemen kasus HIV terdiri dari pelayanan yang berpusat pada seseorang yang menghubungkan orang dengan pelayanan dukungan psikososial dan perawatan kesehatan secara tepat waktu, dan menghubungkan klien kepada tingkat perawatan dan dukungan yang tepat. Manajemen kasus juga memberikan pelayanan konseling perawatan untuk menjamin bahwa ODHA mempunyai kesediaan dan kesanggupan untuk menjalani proses perawatan dan pemberian obat-obatan. Selanjutnya Brooks menjelaskan tentang lima elemen yang perlu diperhatikan dalam manajemen kasus HIV, yaitu (1) advokasi; (2) Servive Delivery and Planning; (3) Rujukan dan Penyediaan Informasi; (4) Follow up dan konsitensi perawatan sesuai dengan kontinum pelayanan; dan (5) membangun ketrampilan, edukasi dan konseling (Brooks dalam Poindexter, 2010)
Manajemen kasus bersifat fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan individu dan masyarakat. Semua sistem manajemen kasus memiliki aktivitas-aktivitas: a) Asesmen kebutuhan, kekuatan dan sistem dukungan personal, b) Pengembangan rencana pelayanan individu, pasangan dan keluarga secara komprehensif dan mutual, c) Koordinasi didalam dan antar lembaga pelayanan yang diperlukan untuk mengimplementasikan rencana pelayanan, d) Memonitor perkembangan untuk menilai efektivitas rencana intervensi kepada klien, dan e) Reevaluasi secara periodik terhadap rencana dan revisi rencana sebagai kebutuhan dan perubahan situasi dari waktu ke waktu (Brooks dalam Poindexter, 2010).
2.2 Aspek Manajemen Kasus
2.2.1 Asesemen
Merupakan kegiatan awal dalam manajemen kasus untuk mengidentifikasi dan memahami kondisi ODHA serta permasalahannya baik secara medis maupun psikososial. Proses asesmen dilakukan oleh tim asesmen yang terdiri dari pekerja sosial, tim medis, dan manajer kasus atau konselor. Pekerja sosial melakukan asesmen awal untuk mengali data diri dan keluarga calon klien ODHA dengan cara mewawancara berdasarkan form (borang) asesmen awal yang telah tersedia. Pada data diri ini juga digali tentang potensi dan minat klien. Asesmen untuk data kesehatan dilakukan oleh tim medis yang terdiri dari dokter dan perawat.
Data kesehatan yang diidentifikasi meliputi hasil VCT, jumlah CD 4, kondisi infeksi opportunistik, jenis dan kepatuhan penggunaan ARV, perilaku berisiko, dan perkembangan kesehatan terakhir. Untuk ODHA perempuan yang sedang hamil juga ditanyakan tentang sejarah rujukan PMTCT (pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak). Sedangkan data psikososial yang digali adalah latar belakang keluarga, kondisi mental dan emosi, hubungan dengan lingkungan, dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta isu-isu masalah yang berkaitan dengan permasalahan psikologis. Asesmen psikososial ini dilakukan oleh konselor yang juga merangkap sebagai manajer kasus.
2.2.2 Perencanaan Kasus
Perencanaan untuk penanganan medis juga dilakukan secara khusus oleh tim medis yaitu oleh sesama perawat, dokter, dan pengurus panti. Perencanaan layanan klien secara medis meliputi : 1) Perencanaan layanan pengadaan obat; 2) Perencanaan layanan pemberian obat; dan (3) Perencanaan layanan pemeriksaan rutin CD4, VCT, darah rutin, dan pemeriksaan lengkap. Individual Care plan secara medis didiskusikan dan dibuat setiap akhir bulan, dan hal yang dipertimbangkan sesuai dengan perkembangan kesehatan ODHA.
Perencanaan yang bersifat individual selain berkaitan dengan medis, juga berkaitan dengan kasus-kasus spesifik yang ditemukan berdasarkan hasil asesmen, seperti kasus penanganan ODHA yang berlatar belakang IDU kemudian relapse, dan kasus ODHA yang memiliki kasus psikotik.
2.2.3 Rujukan
Rujukan merupakan tahapan intervensi ketika lembaga layanan atau pekerja sosial memiliki keterbatasan kemampuan dalam memberikan layanan kepada klien ODHA. Hal ini dilakukan berkaitan dengan prinsip manajemen kasus untuk kontinuitas pelayanan (Brook, 2010). Hal yang dirujuk untuk pelayanan medis berkaitan dengan test laboratorium dan pemeriksaan kesehatan seperti VCT, pemeriksaan CD 4 secara rutin, pemeriksaan untuk penyakit opportunistik. Sedangkan rujukan untuk pelayanan psikososial yaitu mengikutsertakan klien ODHA kepada kelompok dukungan sebaya, sehingga ODHA mendapat dukungan psikososial dari komunitasnya.
2.2.4 Edukasi
Edukasi. Salah satu aspek dari manajemen kasus untuk penanganan ODHA adalah pentingnya pemberian edukasi bagi klien ODHA. Hal ini dilakukan agar klien ODHA memiliki pemahaman tentang HIV/AIDS sehingga dapat memahami kebutuhan dirinya dan mengendalikan diri dari perilaku berisiko serta menjaga kesehatan dan menguasai keterampilan sesuai minat. Konseling menjadi unsur dari proses manajemen kasus yang dilakukan untuk membantu mengatasi permasalahan yang sensitif berkaitan dengan psikososial sebagai dampak terjangkit HIV/AIDS..
Kegiatan edukasi dan konseling dilakukan hampir setiap hari, khususnya dalam kegiatan morning meeting, konseling atau sharing feeling. Jenis edukasi yang diberikan berkaitan dengan pemberian informasi kepada klien tentang cara minum obat yang benar, tentang kesehatan, tentang penyakit HIV AIDS dan infeksi yang menyertainya. Edukasi juga berkaitan dengan bimbingan yang diberikan dalam pelatihan vokasional, seperti berkebun dan komputer yang menjadi pilihan informan. Perawat juga menambahkan tentang edukasi yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan diri seperti bagaimana untuk tetap mempertahankan kondisi kesehatannya dan kemampuan untuk dapat menangkal penyakit yang menyebabkan menurunnya daya tahan tubuh, untuk mampu bertahan hidup, serta mengelola hidup sehat dengan baik dan benar sesuai petunjuk dokter agar kondisi kesehatan dapat dipertahankan.
2.2.5 Konseling
Mereka yang dapat memberikan konseling kepada klien ODHA adalah pekerja sosial, Manajer Kasus, Sarjana psikologi, atau pendamping. Kondisi ini dilakukan karena kemungkinan klien tidak dapat terbuka atau dekat dengan petugas yang ditunjuk, sehingga klien boleh memilih dengan siapa dia dapar berkonsultasi tentang permasalahannya .Lembaga RPS telah menjediakan ruang khusus untuk pelaksanaan konseling, yaitu yang diruang psikolog. Namun pada kenyataannya, konseling dapat dilakukan ditempat manapun, baik di ruang tertutup atau terbuka tergantung kebutuhan dan kenyamanan klien berkonsultasi
2.2.6 Advokasi
Advokasi menjadi salah satu aspek proses manajemen kasus dalam penanganan ODHA berkaitan dengan pemenuhan hak-hak ODHA. Namun demikian informan pekerja sosial mengemukakan bahwa mereka belum pernah melakukan advokasi kepada klien ODHA, karena pihak RPS sudah melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai pemenuhan hak dasar. Pekerja sosial juga mengemukakan bahwa mereka belum menghadapi klien yang memiliki kasus pelanggaran hak. Namun demikian kegiatan advokasi yang perlu dilakukan dalam advokasi adalah mengadvokasi pihak keluarga agar tidak mengdiskriminasi ODHA.
Hak-hak yang dibela oleh pekerja sosial dalam advokasi yaitu
1. Hak bersosialisasi dan bermasyarakat
2. Hak berkeluarga
3. Hak untuk tidak mendapatkan stigma dari masyarakat
4. Hak untuk bekerja
5. Hak untuk dilindungi
6. Hak berpartisipasi dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Manajemen kasus merupakan pelayanan yang menghubungkan dan mengkoordinasikan bantuan dari institusi/lembaga yang memberikan dukungan pelayanan medis dan psikososial dan praktis bagi individu. Dengan berbagai aspek yang ada : Assesment, Perencanaan, Rujukan, Edukasi, Konseling dan Advokasi dapat membantu para pasien ODHA memperoleh kehidupan normal seperti kebanyakan orang/ masyarakat lainnya.
3.2 SARAN
Dengan adanya manajemen kasus pada pasien ODHA, kita sebagai perawat dapat menjalankan tugas kita untuk memberikan asuhan keperawatan dengan aspek-aspek manajemen kasus yang sudah dipaparkan dan semoga dengan ini, para mahasiswa jurusan keperawatan dapat menjadi perawat profesional tanpa membeda-bedakan pasien yang akan nantinya kita rawat.
DAFTAR PUSTAKA
Brooks, D. M. 2010. HIV-Related Case Management. In C. C. Poindexter (Ed.), Handbook of HIV and social work: Principles, practice and populations. New Jersey: John Wiley and Sons Inc.
Fleishman, J. A. 1998. Research design issues in evaluating the outcomes of case management for persons with HIV. Evaluating HIV Case Management: Invited Research & Evaluation Papers
Komentar
Posting Komentar